Pages

Rabu, 17 April 2013

Cinta: Sebuah Tafsir Kehidupan



 Apakah kau akan masih berkata? Kudengar derap jantungmu. Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam CINTA.
(Gie: Sebuah Tanya)

Memang tak mudah menuangkan setumpuk ide yang berjubel di benak kita untuk sekadar mengeksplorasikan proposisi “cinta” dan “men-cinta”. Sebuah naluri yang sebenarnya merupakan fitrah tak terbantahkah oleh logika apa pun. Saya sendiri merasa kurang pas dan kurang puas ketika terma itu dibahasakan apalagi dibahas hanya lewat secuplik narasi yang pendek. Tapi tak ada salahnya untuk mencoba, meski sebenarnya, saya—dalam bahasa D. Zawawi Imron—tak mampu merangkum nyala.

Sejarah cinta sama tuanya dengan sejarah umat manusia. Dalam agama-agama monoteis, khususnya Islam, “cinta” tak lain adalah faktor tunggal yang menyebabkan Adam diusir dari surga karena ia tergoda oleh rayuan Hawa. Tuhan dengan tegas melarang mereka mendekati sebuah pohon (Ahli Tafsir menyebutnya, pohon Khuldi). Namun keduanya lupa akan pesan Tuhan tadi. Kejadian itu terekam jelas dalam Al-Qur'an (Al-Baqarah [2]: 35-36).

Di dunia pun, tempat di mana Adam dan Hawa menghabiskan sisa umurnya, problematika cinta berdiaspora membentuk sebuah hirarki yang berujung pada anarkisme. Polarisasi keinginan mencinta dan memiliki di antara Qabil-Habil terhadap Labudha-Iklimah dalam perspektif hukum yang diputuskan Adam, adalah serpihan sejarah berdarah pertama di jagat ini. Inilah tragedi kemanusiaan yang timbul dari rasa cinta dan kecemburuan.

Ihwal cinta terus membias, berbaur, menerobos batas-batas logika pada setiap hembusan peradaban yang tanpa kenal waktu—selalu aktual dan tak kunjung basi. Bahkan keelokan wajah Zulaikha mampu mencuri kesucian hati seorang Yusuf; kebesaran Balqis dapat menggetarkan jantung sosok Sulaiman; kedermawanan Khadijah bisa menggerakkan kebeningan jiwa Muhammad. Cinta, satu kata, selaksa makna.

Tak ada seorang pun di dunia ini yang tak merasakan akan kekuatan cinta. Seorang filsuf radikal asal Jerman, Nietzsche, memang dikenal garang dan sangat anti terhadap cinta dan perempuan. Berkali-kali ia menyuarakan perempuan sebagai binatang yang lugu. Bahkan menurutnya, perempuan tak lain hanyalah pembawa sial sepanjang masa. Namun apa dikata, ucapan-ucapannya yang keras itu, harus ia ralat sendiri ketika sosok Lou Salome mampu mematahkan logika Nietzsche yang antipasti itu. Pandangan Nietzsche terhadap cinta dan perempuan mengalami transformasi dari qaul qadim ke qaul jadid (meminjam bahasa ijtihadnya Imam As-Syafi'ie). Eksistensi perempuan berada pada dua lempeng yang terpisah: cinta atau benci. Saat cinta atau pun kebencian tidak berperan, tindakan perempuan akan biasa-biasa saja (lih. Beyond Good and Evil, 1998: 82). Tragisnya, Nietzsche teralienasi karena sakit jiwa yang diderita beberapa tahun sebelum ajal menjemput. Cintanya terhadap Salome, kandas lantaran gadis pujaannya itu, membagi cintanya pada Paul Rée.

Jean Paul Sartre, tokoh eksistensialis atheis asal Prancis, juga tak luput dari sentuhan cinta. Ia pun luluh dalam pangkuan perempuan cantik bernama Simone dé Beauvoir. Bahkan Sartre terbiasa berhubungan seks tanpa ada akad nikah. Sebab katanya, pernikahan merupakan sebentuk tirani yang membelenggu kebebasan ekspresi rasa cinta manusia. Aneh. Seorang pemikir sekaliber Martin Heidegger pun tak jauh beda. Ia jatuh cinta terhadap Hannah Arendt, salah seorang mahasiswinya di Universitas Marburg, yang kala itu, Arendt baru genap berusia 18 tahun. Sementara Heidegger telah mamasuki umur 35 tahun. Parahnya lagi, ia sudah punya istri serta dua anak semata wayang. Tetapi, cinta memang selalu membuat pikiran siapa saja yang berusaha memahaminya menjadi absurd dan sulit dianalisis meski menggunakan apa yang disebut Ludwig Wittgenstein sebagai language game.

Entah harus memakai pendekatan apa untuk membahas terma cinta. Saya kira, di sinilah posisi nihilisme mendapat tempat tersendiri dalam mengurai eksotika cinta. Sampai kapan pun cinta tak bisa dikonsepsikan secara utuh. Ketika Plato berkata, di setiap sentuhan cinta, semua orang akan menjadi penyair, itu benar. Namun kebenarannya tetap tidak secara holistik. Kahlil Gibran sebagai pujangga dan seniman kata-kata yang paling berpengaruh hingga detik ini, ternyata tak merasakan happy ending dalam akhir episode kisah cintanya terhadap Hala Dakhir, yang dalam Sayap-Sayap Patah-nya, ia sebut dengan nama Selma el-Karamy. Sosok perempuan lain yang pernah mengisi hati Gibran adalah Mary Elizabeth Haskell. Namun Haskell tak dapat memenuhi niat baik Gibran saat ia mau menikahinya. Sungguh dramatis!

Arthur Schopenhauer, selalu menyendiri-dalam kesepian-menjauhi keramaian. Ia hanya berteman seekor anjing piaraannya, setelah pernikahannya berantakan. Cinta tak selamanya mengasyikkan, bagi Schopenhauer. Tetapi karena kekuatan cintalah, tangan dingin Leonardo da Vinci mampu melukis “Monalisa” sebagai karya monomentalnya.

Bahkan teori Oedipus Complex-nya Sigmund Freud terinspirasi dari mitologi Yunani tentang seorang anak yang kelak menikahi ibu kandungnya sendiri. Oedipus membunuh ayah kandungnya, Laius, di saat ia merasakan cinta kepada ibunya, Jocasta. Cinta, bagi Freud merupakan sumber utama dalam psikoseksual yang sangat mempengaruhi kematangan jiwa seseorang.

Kierkegaard, Bapak eksistensialisme, pernah menulis, “Surat tetap merupakan sarana yang tak tertandingi untuk mengesankan gadis muda; huruf yang mati itu sering berpengaruh lebih kuat daripada kata yang hidup”. Ia menulis cerita fiksi, “Buku Harian Seorang Pembujuk”. Dalam buku itu diceritakan seorang perempuan muda yang dirayu dan dibujuk oleh laki-laki. Laki-laki itu menyusun rencana dengan matang. Setelah perempuan itu terjerat, laki-laki tadi melakukan hal yang mengejutkan; membatalkan pernikahan mereka secara sepihak. Kendatipun cerita fiksi, tapi sebenarnya itu adalah kisah Kierkegaard sendiri dengan tunangannya, Regina (Rifan Anwar: 2011). Bagi teman-teman di Annuqayah, mungkin, kisah cinta Laila-Majnun yang paling representatif dan akrab di telinga.

Mari Ber-“Cinta”!

Dari rekam jejak sejarah (meski sekilas) di atas, terdapat dua komponen mendasar yang menuntut pemahaman eksistensial. Pertama, apa itu cinta; dan kedua, bagaimana seharusnya men-cinta. Pada titik ini, semiotika cinta memiki dua pola simultan; cinta sebagai kata sifat sekaligus cinta sebagai kata kerja. Sebagai kata sifat atau ajektif, cinta tak dapat didefinisikan dalam bentuk proposisi yang universal. Cinta datang menghampiri siapa saja yang ia kehendaki meski pada awalnya, orang itu tak kenal atau bahkan mencela terhadapnya. Saya kira, inilah yang menyebabkan nasib Nietzsche menjadi sedemikian rumit dan terpuruk. Cinta terhadap perempuan yang ia anggap sebagai kehinaan, justru datang menjelang kematiannya sebagai karma yang tak terelakkan lagi. Dus, ia patuh pada keputusan ibunya. 

Cinta sebagai kata sifat, tentu menyemburkan derivasi makna yang sangat beragam. Keanekaragaman itu mengendap menjadi pengalaman pribadi yang tak mudak diidentifikasi. Erich Fromm dalam bukunya, The Art of Loving (2005) membagi obyektivitas cinta ke dalam beberapa kategori: cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotik, cinta diri dan cinta Tuhan. Setiap elemen dari komponen tersebut memiliki keterkaitan meski berada pada ruang terpisah. Tetapi yang perlu digarisbawahi, tema kali ini memiliki tendensi pada cinta erotik, bukan yang lain.

Cinta sebagai sebuah rasa yang berdiri-sendiri, menampilkan spektrum-aksioma kebenaran yang tak dapat dicerap nalar-rasio. Bahkan Dekonstruksi Derrida pun, tak cukup hebat bila dihadapkan pada cinta. Kekuatan cinta justru terletak pada “dirinya” yang tak dapat dinalar. Walapun eksistensinya sangat krusial, hingga detik ini, tak ada yang dapat menyematkan kata “isme” di belakang bangunan katanya. Tidak seperti Empirisme (Locke), Idealisme (Hegel) Materialisme (Marx), Nihilisme (Nietzsche) dan sebagainya, cinta tetap utuh berdiri sendiri tanpa ditopang “isme-isme” bak aliran filsafat. Tak pernah kita dengar istilah cinta(isme). Kalapun pernah dengar, paling juga rekaan bernada guyon. Atau jika tidak, kata itu sangat aneh dan “meggatalkan tenggorakan” saja. Itu sebabnya, mengapa kekuatan cinta tak pernah lapuk ditelan usia. Ia selalu baru dalam dirinya yang lama. Cinta bukan mazhab pemikiran, tetapi aliran keutuhan perasaan.

Dalam istilah kedua, cinta sebagai kata kerja, menyimpan keunikan tiada tara. Keunikan itulah yang selanjutnya menggantungkan sebuah tanya. Cinta: nikmat atau laknat? Posisi cinta dengan sendirinya berubah menjadi bagaimana men-cinta. Men-cinta terkait dengan cara mengekspresikan rasa cinta itu.

Cara demikian diistilahkan dengan “seni mencinta” oleh Fromm setelah sebelumnya banyak yang melontarkan tanya. Apakah cinta itu seni? Ataukah hanya sebentuk perasaan menyenangkan yang dialami secara kebetulan saja, sesuatu yang membuat kita tercebur ke dalamnya jika sedang mujur? Menurut Fromm, ahli Psikologi modern, cinta adalah sebuah seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan. Dalam masalah cinta, kebanyakan orang pertama-tama melihatnya sebagai persoalan “dicintai ketimbang “mencintai atau kemampuan mencintai. Hal kedua yang mendasari sikap aneh masyarakat sekarang dalam soal cinta adalah anggapan bahwa cinta adalah persoalan “obyek bukan persoalan “kemampuan. Memosisikan cinta sebagai obyek, bisa membawa pada kekecewaan manusia modern.

Seni itu kemudian merembes ke ranah yang lebih luas tanpa diminta. Bagaimana pengaruh cinta terhadap aspek yang lain? Persoalan semacam ini yang memuculkan “isme-isme” secara heterogen. Bagi Freud dan Fromm, cinta adalah sumber metodologi berpikir. Bagi Heidegger, justru merupakan efek. Artinya, proses mencinta mempunyai pengaruh kuat terhadap dimensi jiwa yang lain. Dalam Catatan Harian Ahmad Wahib misalnya, ia menulis: “Apakah kelembutan wajah itu mengganggu aktivitas mengejar ilmu?” (20 Maret 1969).

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus melihat pada frame work suatu proses menjalani ke-seni-an cinta itu sendiri. Bagi sebagian orang, cinta mampu menjadi bahan bakar yang mengantarkan pada prestasi membanggakan. Tapi tak jarang, lantaran cinta pula, kehidupan seseorang menjadi semakin suram dan meredup. Itu artinya, efektivitas men-cinta sangat relatif dan bergantung terhadap main set yang mengitarinya.

Secara esensial, cinta adalah karunia terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Karena cintalah sejarah peradaban manusia terbentuk dan terpajang selama puluhan ribu tahun di atas hamparan permukaan bumi. Atas dasar ini, Leonardo da Vinci sangat mengahargai perempuan. Cinta dan perempuan ibarat bulan dan bumi yang jauh namun memiliki relasi yang sangat intim. Cinta adalah nikmat, sama sekali bukan laknat. Sementara formulasi ekspresi cinta itulah yang terkadang membawa laknat. Sebenarnya hal itu mudah dihindari selama etika seni bercinta benar-benar diimplementasikan secara riil.

Salah jika seorang mengecam orang lain yang sedang jatuh cinta sebagai pelanggaran agama. Agama sama sekali tidak memusuhi cinta. Hanya saja, proses men-cintalah yang menandai adanya regulasi-normatif dalam Islam. Hubungan asmara di balik asrama tak sepenuhnya dapat disalahkan. Tetapi yang perlu dipertegas adalah mekanisme cintanya sebagai kata kerja. Dan mungkin, ini yang sedang diterapkan di pesantren-pesantren, terutama Annuqayah.

Dan, kita begitu berbeda, kata Soe Hok Gie dalam puisi berjudul “Sebuah Tanya”, kecuali dalam CINTA. Cintalah yang mempertemukan manusia yang satu dengan lainnya, Sehingga tercipta peradaban yang mampu kita proyeksikan di sepanjang masa. Cinta adalah tafsir atas kehidupan yang paling orisinal. Lalu, bagaimana cinta bisa disebut laknat?

*Versi asli esai saya yang  terbit di Majalah Infitah Edisi XX..XI  2011

2 komentar:

  1. Sippp...tapi benar juga kata Rumi. Manusia terlalu gegabah mendefinisikan kata cinta. Cinta adalah pualam yang mudah retak oleh konsepsi dan definisi. Ia tak bisa dikonsepsikan dalam satu pengertian yang tunggal. Sebab setiap orang yang merasakannya memiliki pengertian yang berbeda. Karena itu cinta memiliki makna seluas manusia yang merasakannya. Persis hadis qudsi dimana Allah berfirman, Cinta dan Kasih Sayangku Lebih Luas dari Adzab dan Siksaku.

    Salman Rusydie Anwar

    BalasHapus
  2. Begitulah sekadar catatan kecil yang sebenarnya tak bisa merangkum makna, apalagi hakikat, cinta...

    BalasHapus